Rabu, 11 Mei 2016



PERKADERAN POLA MI INSTAN
Oleh: Dian Kartika Sari
KAHMI / ALUMNI IAIN PONTIANAK

Perkaderan adalah proses terbentuknya sikap mental seorang kader dalam sebuah organisasi. Sikap mental yang matang akan mempermudah para kader sebuah organisasi untuk mengembangkan potensi dasar yang ada di dalam dirinya. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan salah satu organisasi kader yang tertua di Indonesia. Seiring perkembangan zaman, perkaderan yang dilakukan organisasi hijau hitam di Pontianak ini mengalami penurunan. Sistem perkaderan yang diperkenalkan kepada anggota maupun kader saat ini telah terpolarisasi seperti mi instan, tinggal rebus sebentar mi siap dimakan. Sehingga, kader yang terbentuk pun ‘lembek’ seperti mi instan yang sudah masak itu.

Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk membentuk sikap mental siap juang kader HMI. Perkaderan yang dilakukan pun berjenjang, mulai dari training formal seperti Masa Perkenalan Calon Anggota (Maperca), Basic Training, Intermediate Training, Advance Training, dan Senior Course. Ataupun training informal seperti workshop, up grading, training keprofesian, dan sebagainya. Tidak sampai di situ saja, perkaderan pun bisa dilakukan dimanapun kita berada, di dalam HMI biasanya dikenal dengan aktivitas organisasional dan aktivitas pribadi. Meskipun anggota HMI tidak lagi aktif di kepengurusan, bahkan mungkin sudah menjadi alumni, mereka bisa berkader diluar HMI, dengan tetap membawa nilai-nilai ke-HMI-an itu sendiri.

Secara teoritis, dikatakan bahwa perkaderan adalah usaha organisasi yang dilaksanakan secara sadar dan sistematis selaras dengan pedoman perkaderan HMI, sehingga memungkinkan seorang anggota HMI mengaktualisasikan potensi dirinya menjadi seorang kader Muslim, Intelektual, Profesional, yang memiliki kualitas insan cita. Sungguh sangat ideal perkaderan yang dicita-citakan HMI. Namun tidak menutup kemungkinan hal tersebut dapat terealisasi meski tidak mencapai hasil yang sempurna. Kesadaran untuk terus berkader itulah yang terasa kurang dewasa ini. Sehingga para kader HMI tidak memiliki sikap juang yang tinggi untuk berkader dan ketika terkena sedikit masalah maka kader tersebut akan melempem.

Proses perkaderan yang seperti mi instan itu tidak terlalu baik bagi kader HMI. Karena kematangan berpikir dan bertindak sangat mempengaruhi proses perkaderan itu. Meskipun secara normatif para kader HMI telah  menyelesaikan jenjang perkaderan formal secara bertahap, tapi tidak menjamin kematangan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya secara substansial. Hal ini terpengaruh dari sistem perkaderan formal yang dijalankan. Tak jarang LK I, LK II ataupun LK III dilaksanakan hanya berlandaskan pada tradisi, bukan pada pedoman perkaderan yang ada di HMI. Sehingga, kader-kader yang ‘tercetak’ melalui proses perkaderan formal tersebut tidak sesuai dengan kualifikasi kader yang dicita-citakan di HMI yaitu memiliki integritas pribadi, skill kepemimpinan, potensi berprestasi, dan tentunya sesuai dengan lima kualitas insan cita.

Sudah saatnya HMI, terutama HMI Cabang Pontianak, melakukan transformasi besar-besaran pada proses perkaderan formal maupun informal di tubuh HMI. Setidaknya, para pengurus baik di tingkat Cabang maupun Komisariat mau membaca bersama-sama aturan-aturan yang berlaku di HMI seperti Konstitusi dan Pedoman Perkaderan. Sehingga, kader yang terbentuk memang sesuai dengan cita-cita para pendiri HMI karena perkaderan adalah ruh organisasi ini. HMI adalah organisasi kader, bukannya organisasi massa yang hanya mementingkan kuantitas saja. Banyak hal-hal yang harus diperhatikan para pengambil kebijakan di HMI seputar pengembangan dan pembentukan kader. Dan kesemuanya telah termaktub dalam aturan tertulis di Konstitusi ataupun Pedoman Perkaderan HMI dengan sangat nyata. Tinggal bagaimana mengaplikasikannya dalam perkaderan baik pada jenjang formal maupun informal. Semoga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar