PERKADERAN POLA MI INSTAN
Oleh: Dian Kartika Sari
KAHMI / ALUMNI IAIN PONTIANAK
Perkaderan adalah proses
terbentuknya sikap mental seorang kader dalam sebuah organisasi. Sikap mental
yang matang akan mempermudah para kader sebuah organisasi untuk mengembangkan
potensi dasar yang ada di dalam dirinya. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
merupakan salah satu organisasi kader yang tertua di Indonesia. Seiring
perkembangan zaman, perkaderan yang dilakukan organisasi hijau hitam di
Pontianak ini mengalami penurunan. Sistem perkaderan yang diperkenalkan kepada
anggota maupun kader saat ini telah terpolarisasi seperti mi instan, tinggal
rebus sebentar mi siap dimakan. Sehingga, kader yang terbentuk pun ‘lembek’
seperti mi instan yang sudah masak itu.
Diperlukan waktu
bertahun-tahun untuk membentuk sikap mental siap juang kader HMI. Perkaderan
yang dilakukan pun berjenjang, mulai dari training formal seperti Masa
Perkenalan Calon Anggota (Maperca), Basic Training, Intermediate Training,
Advance Training, dan Senior Course. Ataupun training informal seperti
workshop, up grading, training keprofesian, dan sebagainya. Tidak sampai di
situ saja, perkaderan pun bisa dilakukan dimanapun kita berada, di dalam HMI
biasanya dikenal dengan aktivitas organisasional dan aktivitas pribadi.
Meskipun anggota HMI tidak lagi aktif di kepengurusan, bahkan mungkin sudah
menjadi alumni, mereka bisa berkader diluar HMI, dengan tetap membawa
nilai-nilai ke-HMI-an itu sendiri.
Secara teoritis, dikatakan
bahwa perkaderan adalah usaha organisasi yang
dilaksanakan secara sadar dan sistematis selaras dengan pedoman perkaderan HMI,
sehingga memungkinkan seorang anggota HMI mengaktualisasikan potensi dirinya
menjadi seorang kader Muslim, Intelektual, Profesional, yang memiliki kualitas
insan cita. Sungguh sangat ideal perkaderan yang dicita-citakan HMI. Namun
tidak menutup kemungkinan hal tersebut dapat terealisasi meski tidak mencapai
hasil yang sempurna. Kesadaran untuk terus berkader itulah yang terasa kurang
dewasa ini. Sehingga para kader HMI tidak memiliki sikap juang yang tinggi
untuk berkader dan ketika terkena sedikit masalah maka kader tersebut akan
melempem.
Proses perkaderan yang seperti mi instan itu tidak terlalu baik bagi
kader HMI. Karena kematangan berpikir dan bertindak sangat mempengaruhi proses
perkaderan itu. Meskipun secara normatif para kader HMI telah menyelesaikan jenjang perkaderan formal
secara bertahap, tapi tidak menjamin kematangan pengetahuan dan pengalaman yang
dimilikinya secara substansial. Hal ini terpengaruh dari sistem perkaderan
formal yang dijalankan. Tak jarang LK I, LK II ataupun LK III dilaksanakan
hanya berlandaskan pada tradisi, bukan pada pedoman perkaderan yang ada di HMI.
Sehingga, kader-kader yang ‘tercetak’ melalui proses perkaderan formal tersebut
tidak sesuai dengan kualifikasi kader yang dicita-citakan di HMI yaitu memiliki
integritas pribadi, skill kepemimpinan, potensi berprestasi, dan tentunya
sesuai dengan lima kualitas insan cita.
Sudah saatnya HMI, terutama HMI Cabang Pontianak, melakukan transformasi
besar-besaran pada proses perkaderan formal maupun informal di tubuh HMI.
Setidaknya, para pengurus baik di tingkat Cabang maupun Komisariat mau membaca
bersama-sama aturan-aturan yang berlaku di HMI seperti Konstitusi dan Pedoman
Perkaderan. Sehingga, kader yang terbentuk memang sesuai dengan cita-cita para
pendiri HMI karena perkaderan adalah ruh organisasi ini. HMI adalah organisasi
kader, bukannya organisasi massa yang hanya mementingkan kuantitas saja. Banyak
hal-hal yang harus diperhatikan para pengambil kebijakan di HMI seputar
pengembangan dan pembentukan kader. Dan kesemuanya telah termaktub dalam aturan
tertulis di Konstitusi ataupun Pedoman Perkaderan HMI dengan sangat nyata.
Tinggal bagaimana mengaplikasikannya dalam perkaderan baik pada jenjang formal
maupun informal. Semoga!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar